Negeriku yang Hilang Negeri Silop Maluai

Feature Karya: Adinda Fatimah Azahra

Gambar Desa Meluai Indah

Banyak desa di Indonesia yang memiliki nama unik salah satunya adalah Desa Meluai Indah. Desa Meluai Indah terletak di sebuah Kecamatan Cempaka, Kabupaten OKU Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Dibalik namanya yang unik, menyimpan segudang sejarah yang menarik untuk dibahas. Meluai Indah terdiri dari dua kata yaitu Meluai berasal dari kata maluai yang artinya malu dan Indah yang artinya enak dipandang. Jika digabungkan ke-2 artinya maka akan membentuk sebuah kalimat “malu dan enak dipandang”. Mengapa harus malu jika enak dipandang? Ternyata dibalik itu semua terdapat sebuah sejarah yang tidak banyak diketahui oleh semua orang.

Sebelum Sungai Komering terbentuk, terdapat sebuah kerajaan kecil bernama Minanga Tuha yang terletak di dataran rendah, Desa MinangaT uha. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Adiwarman. Raja Adiwarman memiliki dua orang anak bernama Dang Hyung dan Srigading. Pada saat terjadi gempa tektonik di daerah Sumatera Selatan, gempa tersebut menyebabkan terbentuknya suatu celah saluran air di Danau Ranau.  Celah tersebut menyebabkan air danau keluar dan mengali rmenuju dataran rendah hingga menenggelamkan Desa dan Kerajaan Minanga Tuha. Air danau tersebut, terus menerus mengalir hingga membentuk sebuah sungai yang bernama Sungai Komering. Desa dan Kerajaan Minanga Tuha yang tenggelam tersebut, kini disebut dengan nama Daerah Si Gonong- Gonong.

Bencana alam tersebut menyebabkan sebagian masyarakat menjadi korban, salah satunya adalah Raja Adiwarman. Meskipun demikian, terdapat juga masyarakat yang berhasil menyalamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi termasuk Dang Hyung dan juga Srigading. Masyarakat yang selamat tersebut, mencari daerah yang memiliki dataran tinggi. Mereka tidak ingin menjadi seperti keledai yang jatuh kelubang yang sama dua kali. Akhirnya mereka pun menemukan sebuah daerah berbukit-bukit yang dipenuhi dengan tanaman alang-alang di belakang Desa Campang Tiga. Mereka pun menamakan daerah tersebut menjadi Lioh Tiposih. Lioh Tiposih berasal dari Bahasa Komering yang terdiri dari dua kata Lioh artinya alang-alang danTiposih artinya membuka .Mereka pun mendirikan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Dang Hyung di Lioh Tiposih. Dang Hyung merupakan seorang raja yang belum menikah. Suatu hari, Dang Hyung mendengar berita tentang seorang Putri Kerajaan Jawa yang sangat cantik. Mendengar hal itu, Dang Hyung ingin menemui Putri Kerajaan Jawa tersebut dan menjadikannya permaisuri. Dang Hyung pun menyampaikan keinginannya kepada adik perempuannya yaitu Putri Srigading bahwa ia ingin pergi ke Pulau Jawa dalam waktu ±tiga bulan untuk meminang putri yang sangat cantik. Putri Srigading pun menyetujui keinginan kakaknya tersebut. Sebelum meninggalkan kerajaan, Dang Hyung memberikan benda pusakanya berupa buli-buli dan pesan kepada Sri Gading. Dang Hyung berpesan bahwa jika dalam waktu tiga bulan ia pulang melalui sungai diiringi suara tala yang teratur sesuai dengan nada tarian artinya Dang Hyung pulang membawa permaisuri tetapi jika suaranya kacau balau maka musuhlah yang akan datang. Jika musuh datang, maka Putri Srigading harus memutar buli-buli sebanyak 9 kali kearah jarum jam dengan syarat bibir buli-buli tidak boleh disatukan. Hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan Desa Lioh Tiposih secara sementara agar terhindar dari musuh.

Gambar Buli-Buli

Setelah 3 bulan berlalu, datanglah sekelompok kapal yang diiringi dengan suara tala. Suara tala tersebut, terdengar kacau balau dan tidak sesuai dengan nada tarian. Ternyata suara tersebut disebabkan karena pemain tala baru saja meminum tuak sehingga ia sedikit mabuk dan tidak dapat memainkan tala dengan baik. Mendengar suara tersebut, Putri Srigading menganggap bahwa yang dating adalah musuh. Putri Srigading pun panik lalu ia langsung memutarkan buli-buli sebanyak 9 kali kearah jarum jam dan mempersatukan ujung bibir buli-buli. Hal tersebut berakhir fatal, seketika Desa Lioh Tiposih menghilang dan tenggelam selama-lamanya menjadi sebuah danau yang bernama Lobak Borak.

Pada saat Dang Hyung sampai, ia sangat terkejut melihat desanya yang sudah tidak keliatan lagi dan berubah menjadi danau. Dang Hyung pun mencari-cari Putri Srigading dan masyarakat desa lainnya tetapi tidak menemukannya. Dang Hyung pun sadar bahwa yang menyebabkan desanya tenggelam dan menghilang adalah benda pusakanya yaitu buli-buli. Dang Hyung pun merasa malu lalu mengatakan maluai yang artinya malu dan meninggalkan desa tersebut. Nama Desa Lioh Tiposih pun diganti menjadi Maluai yang merupakan kata terakhir diucapkan oleh Dang Hyung untuk menggambarkan desa tersebut. Desa tersebut pun di kenal dengan nama Talang Maluai oleh masyarakat Pesisir Timur Komering. Selain Talang Maluai , desa tersebut juga dikenal dengan istilah Negeri Silop yang artinya negeri yang tenggelam. Agar mudah dalam penyebutan, Talang Maluai tersebut diganti menjadi Meluai. Hingga sekarang nama desa tersebut adalah Meluai Indah. Ditambahkan kata indah karena diharapkan desa tersebut menjadi desa yang indah atau nyaman dipandang dan dihuni.

Hingga saat ini sejarah dari nama Desa Meluai Indah masih sering disampaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya sebagai warisan sejarah lokal yang harus dilestarikan. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari sejarah tersebut salah satunya adalah kita harus tetap focus dan teliti dalam melakukan sesuatu karena kesalahan kecil dapat menyebabkan kefatalan. Setelah mengetahui sejarah tersebut, diharapkan nama yang telah di wariskan ini tidak hanya menjadi sebuah cerita tetapi dapat menjadi doa untuk terciptanya Desa Meluai Indah yang indah sesuai dengan namanya.

Sumber: Warga Meluai Indah dan Campang Tiga

Add Comment