Romansa Belitang-Jakarta

Cerpen Karya: Luthfi Asmawarni

Menjadi murid baru adalah hal buruk bagiku. Rasa takut, malu, dan gugup menjadi satu, itu yang kurasakan saat ini. Dari kota mrtropolitan Jakarta, ke daerah kecil di sumatera selatan, yaitu belitang. Damai, asri, udara segar dan persawahan luas, itulah belitang. Lahan luas dan subur didukung dengan irigasi yang menjamin walau musim kemarau, irigasi ini dari bendungan perjaya. Sedangkan ramai, penuh sensasi, banyak bangunan pencakar langit dan segala kemudahanya, itulah Jakarta.

Langkahku terasa berat saat menginjakkan kaki ke SMA negeri 1 Belitang, sekolah baru ku. Apalagi ketika bertatap muka dengan 31 siswa, rasanya tatapan mereka seakan menguliti kepercayaan diriku. Aku menghirup rakus oksigen dan, “Hai, nama ku Andara Diva. Semoga kita berteman baik” kata ku dengan satu tarikan nafas. “Baiklah, dara. Kamu boleh duduk dengan Reza” ucap bu dina sambil menunjuk bangku paling belakang. Setelah itu Bu Dina pamit kembali ke kantor. Aku berjalan perlahan sambil menunduk, saat aku sampai di meja nomor tiga, “brukk!” Aku jatuh terduduk karena ada kaki yang menghalangi langkah ku. “Ups, sorry. Nggak sengaja” ucapnya dengan nada yang dibuat buat. Otomatis insiden itu membuat semua orang tertawa. Aku hanya bisa menundukan kepala. Aku merasa mendung mrndatangiku. Saat mata ku mulai berkaca-kaca, ada tangan terulur kepada ku. “Bangun lah” suara bass khas cowok terdengar. Tanpa melihat siapa tuan pemilik tangan itu, aku menerima bantuannya.

Bayangannya masih terbayang, saat dia menolong ku. Dia bak pangeran tampan nan baik hati. Tanpa sadar bibirku melengkung ke atas, “Apa aku menyukai nya?” Tanya ku pada diriku sendiri. Aku menepis pikiran itu dengan menggeleng kepala. “Berpikir apa aku ini” kata ku memprotes hati ku. Untung saja kondisi kelas masih sepi. “Ah, masa bodo. Dia bikin baper sih” jawabku lalu kembali membayangkan wajah pangeran Belitang itu. Brakkk!, suara telapak tangan beradu dengan meja. “Hey. Budak kota!” Ucapnya lantang. Aku terperanjat, “jangan caper jadi wong tu!” Ucapnya lagi. “Caper gimana? Kan tadi kamu yang bikin aku jatuh” jawabku merincikan. “Diem kau!” katanya lalu menarik rambutku. “Jangan ceper. Apolagi dengan Reza!!” Jawabnya lalu pergi.

Aku sedikit khawatir dengan ancaman gadis tadi, yang ku tahu namanya saat aku membaca nametag nya, Kaira. Itulah yang ku ingat. Tanpa sadar aku menghela nafas berat yang membuat tetangga bangku ku menoleh. “Kau ngapo?” Tanyanya kecil seperti berbisik. Aku menggeleng yang ditanggapi anggukan kecil olehnya. Setelahnya hanya suara guru didepan yang terdengar. “Aku tidak bisa fokus” ucapku merengek dengan menjambak rambut lurus ku ini. “Jangan mak itu, jingok na kusut.” Ucapnya cerewet dengan jari nya yang menyisiri rambut ku. Aku terpaku, karena saat ini kita berhadapan. “Nah, jangan dirusak lagi.”ucapnya lalu melihat papan tulis kembali. Aku tak kuasa menahan senyum ku, pipi ku terasa terbakar. Aku mengalihkan pandangan ku dan aku menemukan seseorang yang memandangku dengan tajam, Kaira.

Mentari masih malu-malu. Aku sudah berada disekolah, langkah ku terasa lebih ringan dibanding kemarin. “Ah, masih belum ada yang berangkat” ucapku senyap. Aku mendudukan bokongku ke banggu kebahagiaan. Aku memeriksa laci untuk memastikan tidak ada sampah yang tertinggal disana. Aku menyentuh benda lunak dan berbulu dan saat ku tarik, “aaaaah!!” Teriakku dan barang itu ku lempar entah kemana. “Bagaimana bisa ada tikus mati.?” Tanyaku entah pada siapa. Aku melongok ke laci, untuk memastikan. Hanya ada gumpalan kertas disana. Aku mengambilnya lalu membuka nya perlahan. “Ku tunggu di gudang belakang sekolah.” Setelah aku membaca pesan ini, firasat ku mengatakan bahwa ‘ini bukan pertanda baik‘.

Aku sudah berada digudang, “tidak ada orang, aku pergi saja.” Ujar ku pelan. Saat aku berbalik, ada kaira disana. Aku tersentak karena kemunculanya tiba-tiba. “Hai, Dara.” Sapa nya padaku dengan senyum yang misterius. Dia melangkah mendekat, refleks aku mundur. “Kau ngapo? Takut” tanyanya masih dengan senyum aneh itu. ” k…kau mau aa..apa?” Aku balik bertanya dengan rasa takut yang kini hampir meluap. Kini aku tak bisa mundur lagi, punggung ku sudah menyatu tembok. Plakkk, pipi kanan ku mendapat sambutan panas dari telapak tanganya. “Ini untuk kau yang godai Reza!” Ujarnya berapi-api. Aku hanya bisa merintih pelan. Plakkkk, pipi kiri ku mendapat giliranya. “Ini karno kau suko caper samo Reza!” Ujarnya lagi. “Kaira, aku tidak, aaarghhh!!” Ucapku terpotong karena dia menjambak rambutku. “Jangan sebut namo aku!” Ucapnya menggeram. “Dan ini hadiah untuk kau karno kau lah deketi Reza” ucapnya lalu membenturkan kepalaku ke tembok. Kepalaku terasa amat sakit, mataku berat. Sebelum semuanya gelap, aku mendengar keributan.

Ini adalah hari keenam setelah kejadian antara aku dan Kaira. Aku ingat jelas wajah yang pertama ku lihat saat aku bangun, dia adalah Reza. Aku sudah memaafkan Kaira, tapi dia harus mendapat hukuman dengan dikeluarkan dari sekolah. Gara-gara itu juga, aku semakin dekat dengan Reza. Nah, itu dia Reza. “Pagi, Za” sapaku padanya. Dia tersenyum, “Pagi jugo, pendek” jawabnya yang membuatku memberengut masam. “Aku cuma kurang tinggi, Za” kesalku padanya. “Iya-iya, Pendek” katanya lalu berlari. “Awas kau!!!” Kataku lalu mengejarnya. Aku tahu satu hal, untuk dekat dengan nya bagai jarak Belitang-Jakarta, butuh waktu untuk menggapainya.

Add Comment