Nakal Bukan Pilihan

Ilustrasi siswa nakal

Karya: Sinar Hayati Marega

Siang itu, seperti biasa cuaca panas dan membosankan. Aku berjalan lunglai meninggalkan kelas saat bel istirahat berbunyi, melawati koridor-koridor hingga sampai di kantin—surganya makanan murah bagi siswa siswi kelaparan.

Aku adalah orang yang penasaran dengan banyak hal. Terkadang aku juga merasa cepat bosan dan selalu penasaran untuk melakukan hal baru. Karena sifat itu, sekarang aku terjebak dalam perasaan aneh yang mengukung, perasaan seorang terdakwa yang tertangkap basah melalukan kesalahan.

Kemarin malam aku berpikir untuk melakukan sesuatu yang sejujurnya sudah ku ketahui salah untuk di lakukan. Aku hanya berfikir, apa salahnya sedikit melanggar peraturan atau mencoba menjadi sedikit nakal, hanya sedikit kok. Tetapi ternyata hal yang ku sepelekan itu justru membuat namaku tercoreng dan menjebakku kedalam masalah.

Aku sedang duduk bersandar di kursi kantin menghabiskan segelas es teh saat Githa, teman sebangkuku, menghampiri sambil menepuk bahuku.

“Aku nggak nyangka kamu berani mainin hp pas pelajaran Pak Ketut!” serunya dengan wajah seolah-olah takjub.

“Apasih Git, nggak liat orang lagi susah apa!” aku berseru jengkel.

“Ya maaf, gak abis pikir aja. Saniya, siswi yang paling rajin ke perpustakaan, dan selalu mentaati peraturan, memainkan hp pada saat jam pelajaran,”

Aku menghela nafas panjang dan melanjutkan menghabiskan minuman tanpa menanggapi gurauan Githa.

Memang benar yang dikatakan Githa, kelakuan ku tadi ‘gak habis pikir’. Saat itu jam pelajaran Pak Ketut, aku mencoba memainkan hp, tentu saja saat itu Pak Ketut sedang tidak ada di kelas. Pada saat itu kelas memasuki jam paling menyenangkan alias jam kosong. Aku tidak pernah membawa hp ke sekolah sebelumnya. Sekolah dengan tegas memberlakukan peraturan ‘Siswa/Siswi Tidak Di Perkenankan Membawa Gadget Selama Kegiatan Belajar Mengajar’.

Tentu saja selalu ada oknum yang melanggar peraturan itu, dan tidak sedikit pula yang gadgetnya kena razia dan tidak di kembalikan sampai hari kelulusan. Dan sekarang aku menjadi salah satu diantara mereka. Semalam aku hanya berfikir apa salahnya mencoba untuk membawa hp seperti temanku yang lain. Toh hari ini sepertinya tidak akan ada razia. Ternyata benar saja, hari ini memang tidak ada razia, tetapi aku mengalami hal lebih buruk dari itu. Tertangkap basah secara langsung memainkan hp pada saat jam pelajaran oleh guru killer.

Saat itu suasana kelas kacau seperti jam kosong pada umumnya. Ada yang tidur, rebutan nyontek PR, mengobrol sampai tertawa terbahak-bahak, dan tentunya ada yang bermain hp. Aku menatap sekeliling, merasa aman untuk mengeluarkan hp android ku pada saat tidak ada guru dan suasana kelas sedang mendukung. Ku keluarkan hp dari dalam tas secara hati-hati, dan menekan tombol power untuk megaktifkannya. Pada awalnya aku memainkan hp itu di laci, merasa tidak perlu untuk mengangkatnya terlalu tinggi. Aku membuka aplikasi chatting, melihat hanya sedikit orang yang aktif pada saat jam sekolah, termasuk teman sekelasku yang sekarang juga sedang membuka hp.

Menggeser layar dan membuka berbagai macam aplikasi, aku mulai menikmati kegiatan ini. Mungkin seharusnya aku lebih sering membawa hp agar tidak terlalu bosan di sekolah, selama ini aku terlalu banyak menghabiskan waktu di kelas dan perpustakaan. Di rumah pun jarang membuka hp karena banyak tugas menumpuk, paling-paling hp hanya di pakai untuk membuka internet dan melihat percakapan grup, yang lagi-lagi untuk tugas.

Aku mencoba memberanikan diri untuk meng-update status disalah satu akun media sosial ku. Ku posting foto suasana kelas sekarang dengan memberi caption ‘Jam kosong nih’, merasa belum puas dengan aksi ku itu, aku memcoba selfie dengan teman-temanku yang sedang asyik sendiri sebagai background-nya. Pemandangan seperti ini sudah biasa dikelas. Banyak juga teman-temanku yang membuat status di media sosial saat jam pelajaran. Jadi apa salahnya aku melakukan hal serupa, iyakan?

Semakin asyik dengan hp di tanganku, aku tidak menyadari bahwa sekarang hp yang tadi ku mainkan diam-diam dilaci meja sudah terangkat lebih tinggi dengan tanganku yang masih bergerak bebas dilayarnya. Aku melakukan banyak hal, mulai dari menonton video yang sudah lama kusimpan tapi tidak sempat ku tonton, bermain game, melihat beranda media sosial orang lain, meng-update status, bahkan meng-upload foto.
Saat sedang asyik menonton video lucu, seseorang merampas hp ku, dan secara refleks aku menatap jengkel orang yang berani-beraninya mengganggu kesenanganku itu. Demi Tuhan! Tubuhku membeku saat menyadari siapa sosok yang merampas hp ku secara kasar. Pak Ketut berdiri di hadapanku sambil tangan kanannya memegang hp ku dan tangannya kirinya memegang bilah bambu yang selalu dibawanya kemana-mana.

“Saniya, ikut saya ke ruang BK sekarang!” teriaknya dengan garang sambil menunjukku dengan hp yang ada di tanganya saat itu.Aku berjalan dengan perasaan campur aduk saat itu. Antara takut, bingung, gelisah dan khawatir menjadi satu. Ku lihat teman-teman sekelas yang melontarkan tatapan iba saat melihat aku berjalan keluar kelas. Aku sempat menggerutu dalam hati. Kenapa tidak ada yang memberi tahu kalau Pak Ketut masuk kelas.

Sesampainya di ruang BK aku di ‘interogasi’ oleh Pak Ketut dan Buk Laili—guru BK dengan tampang ramah tetapi sangat tegas dan berwibawa saat menghadapi murid-murid pelanggar peraturan.

“Berani-beraninya kamu memainkan hp pada saat jam pelajaran saya! Liat apa kamu sampai nyengir-nyengir ha?!” Pak Ketut menatapku sambil menggangkat hp yang tadi ku mainkan di kelas. Bibirku kelu untuk menjawab pertanyaan Pak Ketut. Aku hanya bisa menunduk dan memainkan jari-jariku yang berkeringat dengan gemetar.

“Jangan diam aja kamu! Jawab pertanyaan saya!” Pak Ketut meninggikan suaranya, yang malah membuatku semakin takut untuk menjawab.

“Sebaiknya kamu menjawab Saniya, diam tidak akan menyelesaikan masalah. Saya tahu kamu pasti punya alasan,”

Mendengar perkataan Buk Laili, aku mencoba menjawab pertanyaan dengan terbata-bata.

“Saya… saya baru sekali membawa hp pak. Maaf pak, saya janji tidak akan mengulanginya” aku menjawab dengan gugup dan tidak berani untuk menatap Pak Ketut.

“Mana mungkin murid yang baru sekali membawa hp berani-beraninya memainkan pada saat jam pelajaran. Kamu pasti sudah sering membawa hp! Saya tidak terima alasan klise seperti itu! Semua anak yang hp nya kena razia selalu menggunakan alasan yang sama!”

Lalu aku harus mengatakan apa? Aku berkata yang sesungguhnya, bahwa aku baru sekali ini membawa hp. Haruskah aku bilang kalau aku penasaran bagaimana rasanya memainkan hp di kelas, oleh sebab itu aku membawa hp untuk menjadi sedikit nakal? Di kelas ada sekitar lima anak yang membawa hp. Haruskah aku juga melaporkannya? Argh… aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa!

“Kenapa nangis hah? Kamu kira dengan menangis dan memasang tampang melas saya akan mengembalikan hp kamu? Saya sudah sering berurusan dengan murid seperti kamu, bertingkah seperti itu tidak akan menyelamatkan kamu! Hp kamu tetap akan di sita dan tidak akan di kembalikan sampai lulus nanti!”

Air mata yang kutahan dari tadi akhirnya tumpah juga, dan mendengar perkataan Pak Ketut justru semakin membuat aku terisak-isak.

“Kamu seharusnya sudah tahu peraturan di sekolah kita, bahkan saat pertama masuk sekolah kamu sudah menandatangani surat perjanjian untuk mentaati peraturan dan akan menerima konsekuensi jika melanggar. Oleh karena itu hp kamu akan di sita pihak sekolah, ibu dan Pak Ketut tidak bisa memberi keringanan, ibu harap kamu mengerti dan tidak akan mengulanginya lagi” mendengar perkataan Bu Laili, aku menggangguk dan air mata ku berangsur berhenti.

Setelah beberapa kalimat nasihat lagi, aku di persilahkan untuk memasuki kelas lagi. Aku berjalan sambil menghapus sisa air mata, memastikan bahwa mataku tidak sembab. Jika tidak, bisa habis aku diolok-olok teman sekelas.

“Gimana San?” sesampainya di kelas, aku dilempari bermacam-macam pertanyaan, yang justru membuatku merasa sebagai terdakwa yang sedang di kerubungi reporter yang haus akan berita.

“Kok nggak ada yang ngomong kalo Pak Ketut masuk kelas sih?” aku bertanya dengan lemas, sambil duduk dibangku.

“Yee… Kita udah ngomong kali, kamunya aja yang nggak denger. Mana nyengir-nyengir ga jelas lagi” timpal salah satu teman sekelasku.

Sejujurnya aku sedikit bersyukur kepergok saat menonton video lucu sambil nyengir-nyengir, daripada kepergok saat menonton video horror sambil teriak-teriak, yakan?

“Oy… udah belum ngelamunnya bentar lagi bel nih, abisin tuh es teh” seruan Githa membuyarkan lamunanku. Kantin sudah mulai sepi, banyak yang sudah beranjak memasuki kelas masing-masing. Aku menghabisakan es teh yang tinggal tersisa sedikit dengan cepat, lalu berjalan beriringan bersama Githa menuju kelas.

“Emang apa alasan kamu sampai berani bawa hp ke sekolah sih?” pertanyaan Githa memulai percakapan sambil mengisi kekosongan selama berjalan ke kelas.

“Cuma penasaran aja, gimana rasanya ngelanggar peraturan dan nyoba jadi nakal, hehe” jawabku ngawur dan jujur sambil cengengesan.

“Ada-ada aja kamu Saniya, aku tau kamu emang sering penasaran sama suatu hal. Tapi, nakal bukan sesuatu yang patut kamu penasari apalagi kamu coba, nakal bukan suatu pilihan. Dan nakal bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Mungkin kamu akan merasa keren, atau dianggap pemberani jika melanggar peraturan. Tetapi kamu harusnya sadar, di setiap kesalahan pasti ada konsekuensinya. Dan konsekuensinya bukan hanya semata-mata hp kamu kena sita. Coba pikirkan sekarang, hp kamu kena sita, citra kamu buruk didepan guru, dan kamu mau ngomong apa sama orang tuamu kalo hp kamu disita sama sekolah, kepercayaan mereka bisa hilang. Yang rugi kamu sendiri San, bukan Pak Ketut, bukan Bu Laili, bukan orang tua kamu, yang rugi kamu”

Githa menekankan kata ‘rugi’ seolah-olah itu adalah inti dari perkataannya yang panjang lebar. Dan perkataan Githa memang benar, seharusnya aku tidak penasaran dengan hal yang sudah ku ketahui tidak baik untuk dilakukan, dan seharusnya aku berfikir lebih panjang tentang akibat yang akan terjadi jika aku melakukannya. Tidak ada gunanya menyesal sekarang.

Keheningan mengukung dan mengisi kekosongan sampai aku dan Githa kembali ke kelas. Aku menyadari sepenuhnya kesalahanku, dan tidak akan mengulanginya lagi. Tidak akan pernah! Aku sadar, bahwa peraturan ada untuk di taati, dan setiap pelanggar peraturan harus menerima konsekuensinya.

5 Comments

  1. Irman August 18, 2019
  2. Sinar August 18, 2019
  3. sumiati November 1, 2019

Add Comment